Puncak Suroloyo – Damainya Pagi Hari yang Sepi

Puncak Suroloyo - Damainya Pagi Hari yang Sepi

Cutimulu – Yogyakarta selalu menyihir siapapun yang menyukai kebudayaan, alam yang cantik dan kuliner yang enak. Salah satunya adalah Puncak Suroloyo, salah satu puncak tertinggi di Perbukitan Menoreh, Iya, dari sinilah teman-teman bisa menikmati pagi hari sepi nan damai, sambil menunggu matahari menyinari Yogyakarta dengan perlahan namun pasti.

Perbukitan Menoreh ini tampak membentang begitu megah di barat laut Borobudur, bagaikan barisan raksasa yang melindungi Yogyakarta. Saking megahnya, seorang pujangga dari Keraton Surakarta yaitu Ngabehi Yasadipura I pernah menulis karya sastra yang berjudul Serat Cabolek.

Dalam karya sastra Serat Cabolek ini diceritakan seorang Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo mendapat ilham kalau dia akan menjadi seorang penguasa di Tanah Jawa, namun dia harus melakukan dahulu sebuah perjalanan dari Keraton Kotagede hingga Perbukitan Menoreh.

Hal inilah yang harus dia lakukan agar bisa menjadi seorang penguasa. Selain itu di salah satu puncak Perbukitan Menoreh, dia juga harus bertapa. Sekarang ini tempat bertapa Raden Mas Rangsang tadi dikenal dengan nama Puncak Suroloyo dengan pemandangannya yang begitu indah, Siapapun harus mengunjungi tempat ini, selain menikmati matahari terbit di Candi Borobudur.

Menuju Puncak Suroloyo sendiri adalah perjalanan yang menyenangkan sekaligus menantang. Karena tujuannya adalah perbukitan, jalanan yang akan dilewati dari Kota Yogyakarta adalah jalanan yang penuh kelokaan yang diapit oleh bukit dan jurang. Dan tentunya tidak jarang pula dibumbui dengan kelokan tajam  yang membuat adrenalin berpacu kencang. Kira-kira perjalanan seperti itu akan ditempuh sepanjang 15 KM.

Puncak Suroloyo – Damainya Pagi Hari yang Sepi

Puncak Suroloyo - Damainya Pagi Hari yang Sepi

Puncak Suroloyo bisa ditempuh melalui dua jalur yang umum digunakan para traveller yang ingin menikmati matahari pagi di Puncak Suroloyo. Jalur pertama adalah melewati rute Jalan Godean – Jalan Sentolo – Jalan Kalibawang sementara rute kedua adalah melewati Jalan Magelang – Pasar Muntilan – Kalibawang. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, untuk mencapai Puncak Suroloyo, teman-teman harus melewati perjalanan naik turun dengan bukit plus kelokan tajam serta tanjakan yang curam.

Karena itu Jalan menuju Puncak Suroloyo disarankan untuk dilewati dengan menggunakan sepeda motor. Meskipun bisa juga dengan mobil, namun untuk mobil harus lebih berhati-hati karena lebar jalanan kira-kira hanya sekitar 3 menit. Perjalanan dengan kendaraan bermotor menuju Perbukitan Menoreh memang menantang, namun ketika sampai di dekat Puncak Suroloyo pun perjuangan masih belum berakhir.

Iya, tenang saja, untuk mencapai Puncak Suroloyo masih terdapat sekitar 300 anak tangga yang menunggu dan harus dilewati mulai dari pagi-pagi buta. Memang hal itu mungkin akan menghabiskan banyak tenaga teman-teman traveler sekalian. Namun jangan khawatir, usaha tadi tidak akan membuat siapapun menyesal. Karena setiap tetes keringat yang ada akan terbayar dengan matahari terbit yang apik nan cantik dari Puncak Suroloyo. Percaya atau tidak, secara perlahan matahari akan muncul dari balik cakrawala, lalu Gunung Merapi dan Merbabu juga mulai menampakkan diri dengan perlahan.

Sekarang ini, Puncak Suroloyo ini perlahan tetapi pasti telah menjadi primadona baru diantara banyak destinasi yang ada di Yogyakarta. Berada di Pegunungan Menoreh, Kulon Progo, Puncak Suroloyo ini bisa dicapai dari Kota Yogyakarta dalam waktu kurang lebih dari satu jam. Menariknya, dari menara pantau tertingginya yaitu pada ketinggian 1.019 mdpl, teman-teman traveller bisa melihat empat gunung sekaligus. Empat gunung tadi yaitu Gunung Merapi, Sindoro, Merbabu dan Sumbing. Kalau kalian beruntung, sesekali bisa menikmati pemandangan samar Candi Borobudur yang kadang tertutup kabut tipis.

Di Puncak Suroloyo sendiri sudah disediakan tiga buah gardu pandang untuk memudahkan teman-teman traveller menikmati keindahan alam disekeliling. Sementara itu pemandangan dari puncak Suroloyo yang terbaik bisa didapatkan mulai dari ketika matahari terbit hingga jam 10.00 WIB. Biasanya pemandangan pada rentang waktu tersebut akan cerah dan jarak pandang akan lebih terlihat jelas.

Selain itu di puncak akan ada 3 pertapaan yang bisa teman-teman traveller temui. Pertapaan Sariloyo, Kaedran dan Suroloyo ini sebenarnya adalah sebidang tanah yang berukuran kira 7×15 meter persegi. Pertapaan inilah yang konon digunakan tempat bertapa oleh Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo. Menyenangkannya dari tempat ini ketika memandang ke arah utara, Kota Magelang. Sedangkan kalau pandangan kita arahkan ke Timur, akan terlihat Puncak Merapi yang berdiri gagah dengan selimut awan putihnya.

Dari puncak Suroloyo, kira-kira berjarak 200 m berada di sebelah barat ada sebidang tanah yang disebut Tegal Kepanasan yaitu berupa tugu setinggi 1 meter yang berfungsi sebagai tanda batas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah, Selanjutnya adalah pertapaan Sariloyo yang lokasinya tidak jauh dari pertapaan Suroloyo. Lanskap Gunung Sindoro dan Sumbing dipadu dengan kawasan perbukitan hutan lindung yang indah menghijau terlihat jelas dari sini.

Pertapaan yang ketiga dan yang terakhir adalah pertapaan Kaendran jaraknya dari puncak Suroloyo sekitar 250 meter di barat dayanya. Dari tempat pertapaan tersebut teman-teman traveller dapat melihat wilayah Kulonprogo sampai pantai selatan dengan jelas. Kalau beruntung, meski agak sama bentangan pesisir Samudera Hindia hingga kawasan pantai Glagah akan terlihat.

Selain mempunyai pemandangan yang cantik, coba datanglah kesini pada waktu-waktu tertentu. Biasanya Puncak Suroloyo ini dipadati oleh pengunjung setiap tanggal 1 Sura (1 Muharram). Disini akan ada sebuah upacara “jamasan” pusaka Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Manggolo Dewo yang bertempat di sendang Kawidodaren yang berada sekitar 300 meter dari puncak. Memang semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bowono ke IX, kedua pusaka tersebut dititipkan kepada Mbah Manten Hadi Wiharjo, seorang sesepuh di Dusun Keceme yang berada tidak jauh dari sini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *